Tampilkan postingan dengan label 07.Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 07.Renungan. Tampilkan semua postingan

Orang Kaya yang Menginspirasi

Kisah ini aku dengar pada kajian menjelang Ramadhan di Surabaya (Kota Perjuanganku dulu)
oleh ustadz Syafiq Basalamah hafidzohullah...

Pada Suatu hari ada seseorang dari kalangan orang yang kurang berada, dari golongan menengah ke bawah mondar-mandir karena memikirkan masalahnya.Tahukah Anda apakah masalah yang sedang dia hadapi sekarang...? Benar sekali, masalah finansial.Dia mempunyai hajat yang harus segera dia penuhi, untuk keluarganya, sedangkan masalahnya dia adalah orang yang miskin tidak memiliki penghasilan yang lebih untuk kebutuhan-kebutuhan selain makannya. Untuk makanpun mungkin pas-pasan..

Dia memiliki inisiatif untuk menanyakan masalahnya kepada seorang syaikh di kotanya, barangkali syaikh tersebut mampu memberikan solusi untuk permasalahannya.Setibanya di kediaman syaikh, dia langsung meminta nasehat dan bantuan kepada syaikh tersebut...

Alhasil syaikh tersebut tentu tidak mampu untuk membantu permasalahan finansialnya tersebut.

Syaikh tersebut hanya memintanya untuk terus berusaha dan berdoa kepada Allah ta'ala, agar Allah membantunya dan memudahkan rezekinya.Kemudian dia berkata kepada syaikh, sesungguhnya dia telah berusaha dan berdoa, hanya saja dia belum mendapatkan kebutuhannya...


Kemudian, Syaikh tersebut memberikan solusi untuknya,

Syaikh bertutur, "Pergilah engkau ke daerah ini, kemudian carilah saudagar kaya bernama Fulan, dia adalah orang yang paling rigan tangan, dan paling dermawan di kota tersebut. Rumahnya ada di depan masjid (tidak disebut namanya) dikota tersebut, temuilah dia di masjid tersebut, karena dia senantiasa sholat 5 waktu di masjid tersebut. Mungkin dia dapat membantumu atau paling tidak engkau dapat meminjam uang darinya"

Kemudian orang miskin tadi berkata, "Baiklah syaikh, jazakumullahu khairan..."

Orang miskin tadi bergegas menuju kota yang disampaikan. Tibalah dia di masjid depan rumah sang saudagar...Dia berkata, "Subhanallah, masjid yang megah..."

Ketika dia datang telah masuk waktu dhuhur, sehingga iapun segera berwudhu dan mengikuti jama'ah dhuhur di masjid itu.Setelah selesai sholat, dia keluar masjid untuk menunggu sang saudagar kaya, sehingga dia bisa menyampaikan hajatnya kepadanya. Dia bertanya kepada para jama'ah di masjid itu tentang si Fulan saudagar kaya itu. Kemudian para jama'ah menunjukkannya bahwa Si Fulan yang dimaksud sedang duduk di shoff terdepan dengan ciri-ciri demikian dan demikian.

Dia berinisiatif untuk menunggunya, karena merasa tidak enak mengganggu sang saudagar di dalam masjid.5 menit waktu berjalan, dia mondar mandir di serambi masjid ...

10 menit waktu berjalan, sang saudagar belum jua keluar dari masjid...

15 menit berjalan, dia melihat sang saudagar masih mengangkat tangannya, bermunajad dan berdoa kepada Allah...

20 menit, 30 menit, 1 jam, hingga hampir menjelang waktu sholat ashar ... (Subahanallah)

Sang saudagar masih dengan doa dan munajadnya yang khusyu' kepada Allah ta'ala...

Sudah merasa lelah menunggu, orang miskin tadi merenung...

Bagaimana bisa seorang yang kaya raya, seorang saudagar terpandang, begitu lamanya dia memohon, meminta, dan bermunajad kepada Robb-nya...?

Kemudian dia tersadar bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Kaya, Yang memberikan Rezeki kepada makhluknya, semuanya...Yang senantiasa mendengar doa dan rintihan hambanya...Yang maha kuasa atas segala sesuatu...yang senantiasa memenuhi kebutuhan hambanya, yang meminta kepada-Nya...Sehingga orang yang kayapun tidak pernah terlepas dari pertolongan Allah ta'ala,

tidak pernah terlepas dari kebutuhannya kepada Allah ta'ala...Sungguh Allahlah yang memberikan rezeki hambanya,

karena Dialah Yang Menciptakan,

Dialah Yang Mengatur,

Dialah yang Merajai dan Menguasai segalanya.

Dialah Robbul 'alamin...

Setelah merenung, dia membulatkan tekat untuk kembali tanpa menemui sang saudagar...Dia kembali menemui syaikh yang dia minta nasehat tentang permasalahannya...Syaikh berkata kepadanya, "Bagaimana keadaanmu, apakah engaku telah mendapatkan yang engkau inginkan...?"

Dia menjawab, "Alhamdulillah keadaanku lebih baik dari sebelumnya, aku telah mendapatkan lebih dari yang aku inginkan...

Aku mendapatkan hikmah yang besar yang membuatku tersadar, bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan dan memberikan ku pertolongan kecuali Allah.

Allahlah yang memberikan rezeki bukan yang selain-Nya...

Allahlah Yang Maha mendengar, bukan selain-Nya...

Allahlah yang mengabulakan segala permintaan, bukanlah selain-Nya...Aku, akan meminta langsung kepada-Nya wahai syaikh..."

Syaikh berkata, "Alhamdulillah, semoga dia mengabulkan apa yang engkau inginkan wahai anakku..."

(Kisah ini di nukil dengan banyak perubahan)

 Selesai ditulis oleh Al-Alkh Aldy Sefan Rezanaldy
pada bulan dimana para manusia berhaji

Tidak ada Kata Terlambat untuk Belajar

Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun- baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai ‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,  “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” 

Imam yang telah sangat masyhur di tengah kita, Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.

Berikut 10 contoh teladan dari ulama salaf di mana ketika berusia senja, mereka masih semangat dalam mempelajari Islam.

Teladan 1 – Dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum

Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya, “Para sahabat belajar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ketika usia senja”.

Teladan 2 – Perkataan Ibnul Mubarok

Dari Na’im bin Hammad, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Ibnul Mubarok, “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” “Sampai mati insya Allah”, jawab Ibnul Mubarok.

Teladan 3 – Perkataan Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’

Dari Ibnu Mu’adz, ia berkata bahwa ia bertanya pada Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’, “Sampai kapan waktu terbaik untuk belajar bagi seorang muslim?” “Selama hayat masih dikandung badan”, jawab beliau.

Teladan 4 – Teladan dari Imam Ibnu ‘Aqil

Imam Ibnu ‘Aqil berkata, “Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku dalam umurku walau sampai hilang lisanku untuk berbicara atau hilang penglihatanku untuk banyak menelaah. Pikiranku masih saja terus bekerja ketika aku beristirahat. Aku tidaklah bangkit dari tempat dudukku kecuali jika ada yang membahayakanku. Sungguh aku baru mendapati diriku begitu semangat dalam belajar ketika aku berusia 80 tahun. Semangatku ketika itu lebih dahsyat daripada ketika aku berusia 30 tahun”.

Teladan 5 – Teladan dari Hasan bin Ziyad

Az Zarnujiy berkata, “Hasan bin Ziyad pernah masuk di suatu majelis ilmu untuk belajar ketika usianya 80 tahun. Dan selama 40 tahun ia tidak pernah tidur di kasur”.

Teladan 6 – Teladan dari Ibnul Jauzi

Kata Adz Dzahabiy, “Ibnul Jauzi pernah membaca Wasith di hadapan Ibnul Baqilaniy dan kala itu ia berusia 80 tahun.”

Teladan 7 – Teladan dari Imam Al Qofal

Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.

Teladan 8 – Teladan dari Ibnu Hazm

Ketika usia 26 tahun, Ibnu Hazm belum mengetahui bagaimana cara shalat wajib yang benar. Asal dia mulai menimba ilmu diin (agama) adalah ketika ia menghadiri jenazah seorang terpandang dari saudara ayahnya. Ketika itu ia masuk masjid sebelum shalat ‘Ashar, lantas ia langsung duduk tidak mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Lalu ada gurunya yang berkata sambil berisyarat, “Ayo berdiri, shalatlah tahiyatul masjid”. Namun Ibnu Hazm tidak paham. Ia lantas diberitahu oleh orang-orang yang bersamanya, “Kamu tidak tahu kalau shalat tahiyatul masjid itu wajib?”(*) Ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun. Ia lantas merenung dan baru memahami apa yang dimaksud oleh gurunya.

Kemudian Ibnu Hazm melakukan shalat jenazah di masjid. Lalu ia berjumpa dengan kerabat si mayit. Setelah itu ia kembali memasuki masjid. Ia segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Kemudian ada yang berkata pada Ibnu Hazm, “Ayo duduk, ini bukan waktu untuk shalat”(**).

Setelah dinasehati seperti itu, Ibnu Hazm akhirnya mau belajar agama lebih dalam. Ia lantas menanyakan di mana guru tempat ia bisa menimba ilmu. Ia mulai belajar pada Abu ‘Abdillah bin Dahun. Kitab yang ia pelajari adalah mulai dari kitab Al Muwatho’ karya Imam Malik bin Anas.

* Perlu diketahui bahwa hukum shalat tahiyatul masjid menurut jumhur –mayoritas ulama- adalah sunnah. Sedangkan menurut ulama Zhohiriyah, hukumnya wajib.

** Menurut sebagian ulama tidak boleh melakukan shalat tahiyatul masjid di waktu terlarang untuk shalat seperti selepas shalat Ashar. Namun yang tepat, masih boleh shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang shalat karena shalat tersebut adalah shalat yang ada sebab.

Teladan 9 – Teladan dari Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam

Beliau adalah ulama yang sudah sangat tersohor dan memiliki lautan ilmu. Pada awalnya, Imam Al ‘Izz sangat miskin ilmu dan beliau baru sibuk belajar ketika sudah berada di usia senja.

Teladan 10 – Teladan dari Syaikh Yusuf bin Rozaqullah 

Beliau diberi umur yang panjang hingga berada pada usia 90 tahun. Ia sudah sulit mendengar kala itu, namun panca indera yang lain masih baik. Beliau masih semangat belajar di usia senja seperti itu dan semangatnya seperti pemuda 30 tahun.

Jika kita telah mengetahui 10 teladan di atas dan masih banyak bukti-bukti lainnya, maka seharusnya kita lebih semangat lagi untuk belajar Islam. Dan belajar itu tidak pandang usia. Mau tua atau pun muda sama-sama punya kewajiban untuk belajar. Inilah yang penulis sendiri saksikan di tengah-tengah belajar di Saudi Arabia, banyak yang sudah ubanan namun masih mau duduk dengan ulama-ulama besar seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan, bahkan mereka-mereka ini yang duduk di shaf terdepan.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”
Ya Allah berkahilah umur kami dalam ilmu, amal dan dakwah. Wabillahit taufiq.


Referensi:
  • ‘Uluwul Himmah, Muhammad bin Ahmad bin Isma’il Al Muqoddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.
  • Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfaazhil Minhaaj, Syamsuddin Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan pertama, 1418 H, 1: 31.

@ KSU, Riyadh, KSA, 4 Jumadats Tsani 1433 H

Renungan Kematian

#Siang tadi (15 Juli 2012, ed), di tengah perjalanan dari Kedurus ke Sidotopo (sebuah daerah di kota pahlawan-Surabaya-), secara langsung saudara kami menyaksikan kecelekaan di dapan matanya...
Berikut ini adalah cerita yang dia sampaikan,
semoga ada petikan pelajaran yang dapat kita ambil darinya...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review