[Al Kahfi[18]: 10]
(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".
[Al Kahfi [18] : 14]
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;
H.R bukhari muslim
dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari qiyamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya.....
H.R bukhari muslim
.....Yaitu; Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah,.....
H.R bukhari muslim
.....seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, "aku takut kepada Allah", seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis".
Pentingnya Solidaritas Islami dan Menjaga Ukhuwah Islamiah
Keindahan Persaudaraan Sesama Muslim
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki! Janganlah saling menipu! Janganlah saling membenci! Janganlah saling membelakangi! Dan janganlah sebagian kalian menjual sesuatu di atas penjualan sebagian yang lain! Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Tidak boleh ia menzhaliminya, tidak boleh mengacuhkannya, tidak boleh berbohong kepadanya, dan tidak boleh meremehkannya/merendahkannya. Takwa itu ada di sini”, -dan beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. “Cukuplah seseorang dikatakan buruk/jahat, jika ia menghina/merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim yang lainnya, haram (menumpahkan) darahnya, haram (mengambil) hartanya (tanpa hak), dan (mengganggu) harga dirinya/kehormatannya”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Tetapi pada kenyataannya, apakah kita sudah berlapang dada akan kesalahan saudara kita ? Apakah kita mampu untuk tidak berprasangka terhadapa saudara kita? apakah kita malah menjauhinya ?
Harusnya kita-pun juga saling bisa menyadari, tidak hanya sekedar menuntut saudara kita, tapi juga melihat bagaimana diri kita.
Syair Cinta Dariku
Wahai Saudaraku...Wahai Saudaraku yang terasingkan..
Biarlah mereka tetap tertawa...
Biarlah mereka tetap mengejek...
Biarlah mereka tetap menghujat..
Biarlah mereka tetap berkendara di atas fitnah...
Sepahit apapun itu...
Sepedih apapun itu..
Sesakit apapun itu....
Kebenaran tetaplah harus dikatakan....,!
Kebenaran tetaplah harus disampaikan...!
Kebenaran tetaplah harus dipertahankan...!
Ingat..
Tawa mereka tak akan mengusik hati yang di atas Sunnah
Ejekan mereka tak akan menciutkan hati yang di atas Sunnah
Hujatan meraka tak akan menggetarkan hati yang di atas Sunnah
Fitnah mereka tak akan menyakiti hati yang di atas Sunnah
Wahai Saudaraku..
Semua yang mereka ulah tidak lain akan menambah manisnya Sunnah..
Wahai saudaraku..
Tetap paculah kudamu..,Tetap kembangkan layar kapalmu...
Tetaplah dalam keterasinganmu...
Kemuliaan di dalam keterasingan..
Keterasingan untuk kemuliaan...
Wahai Saudaraku...
Tetaplah dalam keterasinganmu..
Sampai datangnya Waktu....
Saudaraku....
أنت الجماعة ولو كنت وحدك
(dari orang yang mencintaimu karena Allah
Abu Abdillah muhammad 'irfan / ma'had thaybah)
Tidak ada Kata Terlambat untuk Belajar
Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun- baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai ‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).” Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.
Teladan 8 – Teladan dari Ibnu Hazm
Referensi:
- ‘Uluwul Himmah, Muhammad bin Ahmad bin Isma’il Al Muqoddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.
- Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfaazhil Minhaaj, Syamsuddin Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan pertama, 1418 H, 1: 31.
Kuliah Sambil Ngaji
Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu
Beberapa Sampel
Mulai Belajar Islam
Sabar dalam Belajar
Pintar Bagi Waktu
Mahasiswa Harus Berilmu Sebelum Beramal
Kewajiban belajar agama bukan hanya bagi mahasiswa yang duduk di Jurusan Syari’ah atau yang belajar di Universitas Islamiyah. Mahasiswa teknik dan kedokteran serta mahasiswa mana pun punya kewajiban yang sama. Ada kadar wajib dari ilmu agama yang mesti setiap mahasiswa pelajari. Karena tidak adanya ilmu agama itulah yang menyebabkan mahasiswa banyak yang salah jalan dan salah langkah. Akhirnya ada yang asal berkoar, namun bagai tong kosong nyaring bunyinya dan ujung-ujungnya tidak mendatangkan maslahat malah mengundang petaka.Dasari Segalanya dengan Ilmu
“Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” (Dinukil dari Mughnil Muhtaj)
Ilmu yang Diprioritaskan
Dalam Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan mengenai hadits di atas,
Imam Nawawi rahimahullah juga berkata,




